Gaya Hidup Ramah Lingkungan Mendukung Terciptanya Kota yang selaras dengan pembangunan berkelanjutan ; Social Good Summit 2018

INS-SGS2018

 

JAKARTA, Indonesia – Ruang-ruang di Museum Nasional, museum terkemuka Indonesia, menjadi hidup dengan berbagai diskusi, jumpa komunitas, musik, workshop gratis, dan flash mob tari yang seru dalam acara SOCIAL GOOD SUMMIT (SGS) 2018 pada tanggal 20 Oktober. SGS adalah acara tahunan UNDP yang diselenggarakan dan dirayakan di berbagai negara untuk memasyarakatkan Sustainable Development Goals (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan), dan di Indonesia, tahun ini, SGS berfokus pada Tujuan #11 yaitu “SUSTAINABLE CITIES AND COMMUNITIES” (Kota dan Komunitas Berkelanjutan)

“Pertumbuhan populasi kota-kota di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia. Kalau menilik Jakarta, dengan populasinya yang sedemikian besar, maka terlihat banyak sekali kesempatan. Saya kagum pada keteguhan dan kepiawaian warga Jakarta menggunakan inovasi untuk memperbaiki hidup mereka, ,” kata Sophie Kemkhadze, Deputy Country Director dari UNDP Indonesia. “Di Social Good Summit ini kita dapat mengenal teknologi yang dapat mengubah sampah plastik menjadi bahan jalan, dan belajar bagaimana teknologi menghubungkan warga yang ingin bersama memerangi kekerasan berbasis jender, bahkan teknologi yang dapat membantu kaum marjinal kota mendapatkan pekerjaan,” kata beliau dalam pidato pembukaannya di SGS.

Acara SGS ini, bertema “OUR CITY: Live – Work – Play”, tidak hanya mendiskusikan tantangan perkotaan seperti kemacetan dan polusi, tapi juga menampilkan solusi oleh pemerintah, perusahaan, maupun warga. Nirwono Joga, seorang arsitek lanskap dan urban planner yang telah menerbitkan buku-buku berpokok bahasan terkait, bicara mengenai pentingnya ruang terbuka hijau, diikuti oleh Tedi Santo Sofyan, ST MT Kepala Seksi Layanan BPJ, Puslitbang Jalan dan Jembatan, Kementerian PUPR memaparkan teknologi yang dapat mengubah sampah plastik menjadi “aspal plastik”. Carlson Lau dari COCOWORK/ev hive berbagi mengenai tren dimana co-working menawarkan konsep baru ruang kerja yang dahulu berpusat pada suatu gedung kantor.  

Lalu Atika dari Yayasan Sebar Inspirasi Indonesia memaparkan gagasan penggunaan teknologi app untuk menghubungkan komunitas yang ingin membantu korban perkosaan maupun perundungan anak, sementara Yuanita Agata, Marketing Vice President Go-Life berbagi pengalaman Go-Life dalam membantu mereka yang miskin dan menyandang cacat dengan memberi pelatihan serta kesempatan kerja dengan app/platform mereka.

“GO-JEK menggunakan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat yang umumnya termarginalisasikan dalam roda perekonomian formal. Hal ini sejalan dengan Sustainable Development Goals,” kata Yuanita Agata, VP Marketing GO-LIFE. “Di GO-LIFE kami bermitra dengan ratusan penyandang disabilitas yang mana mereka mampu bersaing secara kualitas dan penghasilan dengan mitra-mitra lainnya. Kampanye kami #HilangkanBatasan mengajak masyarakat agar turut mendukung penyandang disabilitas agar dapat turut merasakan manfaat dari ekonomi yang inklusif.”

Social Good Summit 2018 juga menampilkan acara jumpa komunitas dimana komunitas yang unik dari Jakarta dan sekitarnya datang, sebagai inisiatif warga yang ingin mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat dan ramah lingkungan.  Di bidang budaya ada komunitas tari Belantara Budaya, Ngobrol Jakarta yang berfokus pada eksplorasi tempat historis dan kultural di Jakarta, RajutKejut komunitas penggemar aktivitas kerajinan yang karyanya mewarnai Jakarta, dan Taman Suropati Chamber Community yang dinobatkan menjadi orkes music pertama yang berlatih di sebuah taman.

Hidup sehat juga merupakan perhatian warga kota, mereka dapat bergabung dengan komunitas Yoga Gembira, yang berlatih di taman, Natural Cooking Class dan Jalan Sutra, komunitas yang berfokus pada makanan, juga Indonesia Berkebun, komunitas peraih penghargaan yang merupakan prakarsa warga untuk bercocoktanam di perkotaan di seluruh Indonesia yang sempit lahannya.

Sebuah flash mob tari dari Belantara Budaya memulai rangkaian acara yang gratis dan terbuka bagi publik ini – diikuti oleh “SocialGood Talks” yang mendiskusikan sampah plastik dan polusi lautan, sebuah isu yang dekat dengan UNDP, juga TeloBag, sebuah alternatif tas yang dapat terurai yang terbuat dari singkong, serta “Rumah Minim Sampah” suatu konsep yang dapat menjawab masalah sampah di tingkat warga.

SocialGood Talks juga menyorot prakarsa dari warga perseorangan, seperti Riri Riza, seorang sineas terkemuka Indonesia, yang berbagi pengalaman mengasuh Rumata Artspace di kota asalnya di Makassar, sebagai suatu tempat dimana kreativitas dan pelaku kreatif bisa terbantu. Nirwono Joga kembali berbagi visinya membawa warga kota ke taman dengan komunitas “Ayo ke Taman”.  Maylaffayza Wiguna dan Yasha Chatab membagi pengalaman mereka memulai dan menebar “virus berlari” dengan komunitas pelari urban IndoRunners, yang meletikkan banyak kegiatan berolahraga seperti marathon di berbagai kota.

Social Good Summit adalah acara yang menyenangkan di akhir pekan yang bertujuan menggalang dukungan masyarakat agar Sustainable Goals dapat tercapai, dimeriahkan oleh musik oleh Sanggar Anak Akar, sebuah grup anak jalanan, dan Bangkutaman, sebuah grup musik independent peraih anugerah, juga makanan sehat dari Salad Circus, Kopi Oey, Madesan, dan MHF Kitchen.

Social Good Summit 2018 diakhiri oleh serangkaian workshop, “Advokasi kota melalui penuturan kisah secara visual” oleh Feri Latief, seorang pewarta foto dan kontributor majalah National Geographic Indonesia, “Makan Sehat” oleh MHF Kitchen, “Tanam Makanan Kita Sendiri” oleh Fajar Wiryono, seorang petani urban, dan “Dari Sampah jadi Karya” oleh Harjuni Rochajati dari RajutKejut.

# # #

Untuk keterangan lebih lanjut hubungi

Inggita Notosusanto, Social Good Summit 2018 organizer, inggita.notosusanto@undp.

WA 0818162656

Tomi Soetjipto, Communications Specialist, UNDP Indonesia, suryo.tomi@undp.org

WA 0811 8888814  

UNDP Di seluruh dunia

Anda berada di UNDP Indonesia 
Pergi ke UNDP Global