Kreatif atau Mager, Setiap Orang Bisa Atasi Polusi Plastik di #BeatPlasticPollution

IMG_7356

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pembangunan (UNDP) dan Kementerian Perindustrian RI mengajak masyarakat mengambil tindakan untuk polusi plastik

Jakarta, 23 Juni 2018 – Ada 13 juta ton sampah plastik yang terbuang ke lautan dan mengganggu lingkungan hidup di seluruh dunia setiap tahunnya1. Sampah plastik itu berasal mulai dari botol plastik, bungkus makanan dan minuman, kantong belanja sekali pakai hingga mainan plastik. Risiko yang ditimbulkan polusi plastik terhadap lingkungan hidup dan kesehatan manusia telah mendorong masyarakat internasional untuk bertindak melalui gerakan global "Beat Plastic Pollution" dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada tanggal 5 Juni. Untuk berkontribusi terhadap tujuan ini, UNDP bersama dengan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia mengadakan acara khusus dengan pameran fotografi dan pameran instalasi seni berbahan sampah plastik; workshop mewarnai tas belanja berbahan kain; lomba memilah sampah; dan pemutaran film dokumenter tentang pembangunan berkelanjutan.

“Penanganan sampah plastik merupakan tanggung jawab bersama baik pemerintah, swasta, dan masyarakat,” kata Dr. Ir. Ngakan Timur Antara, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kementerian Perindustrian RI, dalam keterangannya di Jakarta 22 Juni 2018 yang lalu. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penanganan sampah plastik, secara garis besar dapat dilakukan melalui 3 (tiga) cara yaitu meminimalkan penggunaan produk berbahan plastik sekali pakai, mencari material alternatif yang lebih mudah terurai, dan mendaur ulang sampah plastik menjadi barang bernilai ekonomi.

Kendati demikian, penggunaan kantong plastik, penggunaan plastik mampu urai hayati (biodegradable plastic) belum begitu populer di kalangan non-retail, karena harganya dianggap masih relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan plastik konvensional. Inovasi juga berpengaruh pada pengurangan konsumsi plastik, seperti kemasan siap makan (edible coating) yang memiliki sebagian sifat material seperti plastik dan berfungsi seperti plastik yang lazim digunakan pada industri makanan. Kami mendorong pemakaian material nabati seperti tapioka yang lebih ramah lingkungan dan aman sebagai bahan baku bagi edible coating maupun kemasan alternatif yang ramah lingkungan.

Acara ini juga menampilkan talkshow interaktif bersama aktris muda dengan berbagai penghargaan Chelsea Islan, yang juga merupakan Sustainable Development Goals/SDGs Mover UNDP Indonesia. “Menyelamatkan lingkungan bisa dimulai dengan cara-cara sederhana, bahkan kita yang sering kali mager ini juga bisa berkontribusi. Misalnya dengan menggunakan kantong belanja dari kain. Siapkan kantong kainnya di dalam tas sehari-hari untuk mengurangi penggunaan kantong plastik saat berbelanja,” kata Chelsea Islan, seusai menyampaikan tips untuk menyelamatkan dunia bagi "orang-orang mager” dalam talkshow tersebut.

Anton Sri Probiyantono, Senior Programme Manager UNDP Indonesia menyambut baik antusiasme terhadap isu pembangunan lingkungan hidup yang ditunjukkan oleh para peserta yang sebagian besar adalah anak muda. "Dalam acara ini, UNDP bersama dengan SDG Mover kami, Chelsea Islan ingin mendorong semua orang untuk mulai melakukan sesuatu yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari untuk menyelamatkan lingkungan hidup,” kata Anton.

 

Informasi selanjutnya, silakan hubungi:

 

Communications Unit UNDP Indonesia: communications.id@undp.org

Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perindustrian RI : humaskemenperin@gmail.com

UNDP Di seluruh dunia

Anda berada di UNDP Indonesia 
Pergi ke UNDP Global