Pembiayaan sosial akan membuka dukungan yang diperlukan untuk mencapai SDGs

2017 Mar 24

Inovasi pembiayaann Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) memberikan harapan baru untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Program Pembangunan PBB (UNDP) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan dua laporan penelitian tentang potensi pembiayaan sosial.

Negara-negara berkembang membutuhkan antara $3 sampai 4.5 triliun untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Pembiayaan sosial memainkan peran kunci dalam kesenjangan pendanaan di sektor-sektor kesehatan, pendidikan, sanitasi dan energi. Pembiayaan sosial mencakup berbagai bentuk pendanaan swasta seperti investor dampak, angel investors, crowdfunding atau modal ventura yang berfokus pada investasi yang memberikan manfaat sosial selain keuntungan. Demikian pula, wirusaha sosial adalah organisasi yang dirancang untuk menciptakan dampak sosial yang positif dengan menggunakan strategi komersial.

Di Indonesia, perkembangan sektor pembiayaan sosial lambat dan kebanyakan terdiri dari lembaga keuangan mikro lokal. Ada banyak pemangku kepentingan yang terlibat tetapi ekosistem yang mendukung pengembangan wirausaha sosial masih terbatas dan terfragmentasi.

Dengan menyalurkan pendanaan swasta untuk usaha yang memberikan dampak sosial dan lingkungan, pembiayaan sosial dapat menjadi alat penting untuk mencapai  Agenda 2030.

Pada acara yang digelar di Hotel Mandarin, 23 Maret 2017, Ketua OJK DR Muliaman Hadad membuka acara tersebut dengan menekankan pentingnya keragaman dalam dukungan yang diberikan untuk mencapai SDGs.

Christophe Bahuet, Country Director UNDP Indonesia menekankan pentingnya meningkatkan pembiayaan untuk pembangunan di Indonesia: "Ada kesenjangan pendanaan untuk mencapai SDGs,  dimana pembiayaan sosial dapat membantu menjembatani dengan menyalurkan pendanaan swasta untuk usaha yang menguntungkan yang memberikan dampak sosial dan lingkungan," katanya. "Kedua laporan UNDP yang diluncurkan hari ini menunjukkan bahwa ada potensi yang kuat untuk pembiayaan sosial di Indonesia tapi ada ketidak-terhubungan antara wirausaha dan investor yang perlu dijembatani," tambahnya.

Agenda 2030 yang ambisius membutuhkan pembiayaan yang signifikan untuk mencapai SDGs. Karena pembiayaan sektor publik tidak cukup, perlu untuk mengeksplorasi cara untuk meningkatkan pembiayaan sektor swasta, termasuk pembiayaan sosial dan wirausaha sosial.

Pesan utama:

·       Diperkirakan bahwa secara global, negara-negara berkembang akan membutuhkan antara $3 sampai 4.5 triliun untuk mencapai SDGs. Investasi saat ini dalam perawatan kesehatan, pendidikan, sanitasi, akses ke energi dan semua sektor dalam SDGs adalah sekitar $ 1,4 triliun, menciptakan kesenjangan investasi rata-rata sekitar $2,5 triliun.

·       Investasi untuk kewirusahaan sosial langsung memberikan kontribusi terhadap SDGs dengan mengatasi kesenjangan sosial dan gender dan kemiskinan.

·       Pada tahun 2016, sekitar 25 investor dampak asing ingin masuk ke Indonesia.

·       Pada tahun 2016, diperkirakan USD 43 juta masuk ke wirausaha sosial, peningkatan hampir dua kali lipat dari USD 23 juta yang diinvestasikan pada tahun 2014. Tapi ini kecil jika dibandingkan dengan USD 861 juta yang diinvestasikan oleh lebih dari 60 pemodal ventura di bidang teknologi di Indonesia pada tahun 2015, sebagian besar untuk perusahaan e-commerce dan internet.

·       Tantangan bagi wirausaha sosial masih tetap ada. Sebagian besar wirausaha sosial tidak dapat sepenuhnya membiayai operasi atau pertumbuhan mereka melalui pendapatan berbasis pasar atau investasi eksternal. Mereka tidak cukup menguntungkan untuk mengakses pasar keuangan tradisional.

Dua laporan UNDP Indonesia ini dapat ditemukan di sini: 'Social Finance in Indonesia' disusun oleh Allied Crowds, sebuah perusahaan konsultan yang berbasis di London yang berfokus pada data dan analitik tentang  pembiayaan alternatif di negara berkembang. Laporan ini mendefinisikan pembiayaan sosial sebagai investasi yang ditargetkan pada inisiatif yang memberikan dampak sosial dan lingkungan. http://www.id.undp.org/content/dam/indonesia/2017/doc/INS-report1%20Allied%20crowds.pdf

 

'Social Finance: A New frontier for Development', disiapkan oleh Indonesia Angel Investor Network, Angin, dan menggambarkan komposisi sektor pembiayaan sosial dan kewirausahaan sosial di Indonesia. http://www.id.undp.org/content/dam/indonesia/2017/doc/INS-SF%20Report2%20ANGIN.PDF

 

 

Kontak:

Isabel Dunstan

Communications Officer

Isabel.dunstan@undp.org

UNDP Di seluruh dunia

Anda berada di UNDP Indonesia 
Pergi ke UNDP Global