Hamzah Tjakunu menunjuk ke sebuah sekolah yang rusak akibat gempa bumi pada tahun 2018.

Berdiri di dekat tumpukan panel jendela kayu, insinyur Hamzah Tjakunu menguraikan rencananya untuk merobohkan sekolah yang dilanda gempa yang tampak utuh tetapi kemungkinan mengalami kerusakan besar yang membuatnya tidak aman. Sekolah itu adalah satu dari puluhan ribu bangunan yang rusak akibat gempa besar yang melanda provinsi Sulawesi Tengah pada Bulan September 2018.

Setelah mensurvei bangunan bata yang berisi empat ruangan kelas, Hamzah merinci banyak barang yang bisa diselamatkan. Dari langit-langit seng hingga panel pintu kayu, banyak bahan-bahan bangunan sekolah ini dapat digunakan kembali.

Pekerja mendaur ulang material dari rumah yang dilanda gempa.

"Dalam program padat karya ini kami tidak asal merobohkan bangunan yang rusak," kata Hamzah. “Yang membedakan kami adalah kami selalu mengidentifikasi barang-barang yang bisa kami selamatkan dari bangunan yang rusak untuk mendukung pembangunan kembali di masa depan. Kami membantu pemilik bangunan untuk menghemat biaya dalam proses pembangunan kembali. "

Hamzah adalah seorang insinyur lapangan yang bekerja untuk program padat karya UNDP, yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat lokal dengan melibatkan mereka dan membayar mereka untuk membersihkan puing-puing gempa bumi — dan dalam beberapa kasus merobohkan bangunan yang dianggap tidak aman untuk digunakan.

Program padat karya berada di bawah program bantuan bencana cepat UNDP senilai USD 1,4 juta, yang dibiayai Dana Tanggap Darurat Pusat PBB dan UNDP.  Program padat karya disiapkan berdasarkan pengalaman ekstensif UNDP dalam rekonstruksi dan pembangunan kembali, termasuk di Nepal setelah gempa bumi besar pada tahun 2015 dan Filipina setelah topan Pablo pada tahun 2012.

Fase pertama dimulai pada minggu kedua bulan November dan berakhir tepat sebelum Natal, mempekerjakan sekitar 300 penduduk desa untuk membersihkan puing-puing dari rumah dan sekolah yang dilanda gempa di beberapa desa.

Di desa Jogo One, di mana sekolah itu berada, sekitar 80 bangunan yang rusak telah dirobohkan. Fase kedua, yang lebih besar akan dimulai pada bulan Januari dan mempekerjakan setidaknya 3.200 penduduk desa, 40 persen di antaranya adalah perempuan.

Setiap rumah yang terkena gempa di survei untuk tujuan daur ulang

Untuk merobohkan bangunan, program cash-for-work ini menggunakan “pendekatan 3M” yaitu Milih, Milah, Membongkar.

Menurut perhitungan awal Hamzah, tahap pertama berhasil mengumpulkan kembali bahan-bahan bangunan bekas senilai kurang lebih 500 dolar AS (sekitar 7 juta Rupiah) di desa Jogo One saja.

“Banyak sekali pemilik rumah yang datang yang ingin berpartisipasi dalam program kami agar mereka dapat menggunakan kembali bahan-bahan bangunan dari rumah mereka,” katanya.

Bangunan tidak dihancurkan menggunakan excavator, namun ditarik oleh sedikitnya 30 pekerja menggunakan kabel baja hingga bangunan itu roboh. Teknik ini telah menyelamatkan ratusan langit-langit seng dan panel kayu, kata Hamzah.

Penjaga Toko Franky Lamakampali adalah salah satu orang yang selamat dari gempa yang mendapat manfaat dari proses daur ulang ini. Dengan dukungan dari Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia, ayah satu putra ini membangun kembali bagian depan rumahnya yang rusak, tepat pada waktunya untuk merayakan Natal. Dengan dana yang terbatas, dia hanya dapat membangun kembali beberapa bagian rumahnya dengan bahan kayu baru — dan selebihnya menggunakan bahan-bahan bangunan bekas yang dikumpulkan dari rumahnya yang dulu.

Franky Lamakampaly dan istrinya berdiri di luar rumah mereka yang baru dibangun menggunakan bahan daur ulang dari rumahnya yang dilanda gempa.

“Panel pintu berasal dari konstruksi rumah sebelumnya, dan saya masih menyimpan beberapa panel jendela untuk digunakan kembali di kemudian hari. Bahan-bahan bangunan itu sangat mahal, dan saya akan menggunakannya setelah kami menerima lebih banyak dana untuk membangun kembali sepenuhnya, "kata Franky, 35, yang juga ikut membersihkan puing-puing.

Dia menggunakan uang yang diperoleh dari program padat karya untuk mengisi kembali barang-barang di toko kecilnya, yang menjual bahan-bahan kebutuhan pokok seperti telur, minyak goreng, dan biskuit.

Sejalan dengan prinsip ‘zero waste’, program ini juga menggunakan kembali puing bangunan untuk memperbaiki jalan yang rusak. Tidak jauh dari sekolah, Hamzah dengan bangga menunjukkan bagian dari jalan rusak, sekarang diratakan dan dipulihkan dengan puing-puing dan pasir. Meski panjangnya kurang dari satu kilometer, bagian yang diperbaiki telah menghubungkan kembali penduduk di desa pertanian yang dihuni 4.900 orang ini — suatu perbaikan sederhana dengan manfaat yang besar.

 

Kisah oleh Tomi Soetjipto
Foto oleh Hamzah Tjakunu dan Fieni Aprilia

UNDP Di seluruh dunia

Anda berada di UNDP Indonesia 
Pergi ke UNDP Global