Tantangan Konservasi Laut Di Pulau Terpencil: Anambas

DSCN1777

 

ANAMBAS, INDONESIA – Pada bulan Mei 2018, UNDP BIOFIN (Biodiversity Finance Initiative) bersama dengan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan melakukan survei awal untuk menilai potensi Kepulauan Anambas dari perspektif pembangunan berkelanjutan. Sebagai bagian dari survei, UNDP dengan LPEM UI mengadakan diskusi kelompok yang dihadiri oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas, Departemen Pariwisata dan Departemen Perikanan, BAZNAS (Badan Zakat Nasional) dan Biorock Indonesia. LPEM UI juga mewawancarai nelayan lokal, pemilik hotel dan pemilik usaha ikan Napoleon.

Kepulauan Anambas adalah kabupaten yang baru dibentuk di Provinsi Kepulauan Riau di Indonesia, yang berlokasi di Laut China Selatan, di perbatasan Indonesia dengan Singapura dan Vietnam. Kepulauan Anambas sedang mempersiapkan diri untuk menjadi pusat budidaya ikan Napoleon dan Kerapu terutama untuk komoditas ekspor. Namun, masih ada beberapa nelayan lokal dan pendatang yang masih mempraktekkan penangkapan ikan yang merusak (destructive fishing) yang merupakan ancaman langsung terhadap konservasi laut.

Lebih dari 70% - 80% kawasan Kepulauan Anambas memiliki 339 spesies terumbu karang yang berbeda, membuat Kepulauan Anambas menjadi potensi industri pariwisata berkelanjutan. Dana yang dihasilkan dari industri pariwisata dapat menjadi sumber alternatif pendanaan untuk upaya konservasi laut. Dengan berkembangnya industri pariwisata, akan membuka kesempatan bagi usaha lokal baru sebagai mata pencaharian masyarakat setempat.

 

Namun, aksesibilitas Kepulauan Anambas masih sangat terbatas. Transportasi dari udara maupun laut dapat dibatalkan karena cuaca dan kondisi laut yang tidak menentu. Pemerintah setempat berencana untuk membangun bandara baru agar Anambas lebih mudah diakses untuk wisatawan domestik dan mancanegara.

UNDP Di seluruh dunia

Anda berada di UNDP Indonesia 
Pergi ke UNDP Global