Perencanaan dan Pembangunan Perkotaan Inovatif di Bandar Lampung

INS-wastebank

Lensa Baru untuk Praktik Pengelolaan Sampah

Oleh Maurice Shawndefar dan Priska Marianne

"Bagaimana kita bisa mengurangi timbunan sampah perkotaan? Bagaimana kita bisa memproses 80 persen sampah kita? Bagaimana kita bisa mengembangkan pendekatan yang lebih baik untuk pemisahan dan distribusi sampah? "Ini adalah beberapa pertanyaan yang diajukan selama lokakarya Perencanaan dan Pembangunan Perkotaan Inovatif untuk Bandar Lampung yang lebih bersih.

Tahun lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa di Indonesia menyelenggarakan lokakarya 3 hari bekerja sama dengan pemerintah kota Bandar Lampung dan mitra lokal untuk menggagas, mengembangkan, dan menguji purwarupa yang dapat memperbaiki kondisi pengelolaan sampah kota tersebut. Tim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCT) terdiri dari beberapa badan PBB termasuk UNDP, UNICEF, dan UN Volunteers (UNV) menggunakan keahlian mereka di bidang yang berbeda untuk melengkapi proyek ini dari berbagai sudut. Inisiatif ini, Perencanaan dan Pembangunan Perkotaan Inovatif/Innovative Planning and Urban Development ( iPUD ), dimaksudkan untuk mengatasi tantangan perkotaan bekerja sama dengan pemerintah kota.

Ruang lingkup proyek

UNCT diminta oleh pemerintah untuk memperbaiki pengelolaan sampah di kota tersebut. Dalam minggu-minggu berikutnya, UNDP menyelenggarakan FGD untuk lebih memahami tantangan utama seputar pengelolaan sampah.  Diskusi ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan dari berbagai latar belakang termasuk pemerintah, dunia usaha, lembaga nirlaba, akademisi, dan relawan masyarakat. FGD mendukung upaya UNCT dalam menentukan ruang lingkup iPUD , meliputi:

  1. Membangun pusat daur ulang dan pengomposan;
  2. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang 3R (reduce, reuse and recycle/ kurangi, gunakan kembali dan daur ulang);
  3. Memperbaiki model keberlanjutan bank sampah di Bandar Lampung.

Setelah FGD, UNCT menilai beberapa masalah seputar pengelolaan sampah di Bandar Lampung. Tim tersebut melakukan penelitian lapangan selama delapan minggu untuk mengidentifikasi mitra lokal, mengidentifikasi lokasi proyek untuk uji coba purwarupa, mengidentifikasi kelompok sasaran, mengumpulkan hampir 700 survei persepsi, melakukan wawancara mendalam, dan memetakan model bisnis yang ada untuk bank sampah di Bandar Lampung.

Penelitian

Dalam minggu-minggu menjelang lokakarya, UNCT telah mengidentifikasi Kecamatan Rajabasa sebagai lokasi proyek, dan tim telah membentuk kemitraan yang diperlukan yang sangat penting bagi keberhasilan proyek. Selain itu, bekerja sama dengan mitra lokal, UNCT menarget usaha kecil, besar, rumah tangga, dan mahasiswa dan siswa sekolah dasar untuk survei persepsi dan melakukan wawancara mendalam di Rajabasa.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa walaupun mayoritas responden mengetahui cara mendaur ulang (59 persen), hanya 35 persen responden benar-benar mendaur ulang sampah. Kesenjangan ini dapat dikurangi dengan meningkatkan akses terhadap fasilitas daur ulang dan meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat untuk mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sampah. Hal yang baik adalah bahwa data tersebut juga menunjukkan sebagian besar penduduk percaya mereka harus berbuat lebih banyak dan tertarik untuk mendukung upaya tersebut untuk memastikan konsumsi yang bertanggung jawab dan meningkatkan tingkat daur ulang di seluruh kota.

Untuk lebih memahami inisiatif sampah yang ada di Bandar Lampung, kami mengumpulkan data kuantitatif dan kualitatif dari pelaku terkait di lapangan. Selain itu, UNCT bermitra dengan SMASH, aplikasi pengelolaan bank sampah berbasis web dan ponsel untuk mendapatkan data real-time tentang jumlah bank sampah, transaksi, dan bahan daur ulang yang dikumpulkan. Database ini mengungkap bagaimana bank sampah dikelola di Bandar Lampung dibandingkan dengan bank sampah di seluruh Indonesia. Tidak mengherankan, tingkat aktivitas di Bandar Lampung jauh di bawah rata-rata nasional - tingkat transaksi bank sampah di kota tersebut saat ini di bawah 1 persen.   Ini memberi UNCT kesempatan untuk meningkatkan tingkat daur ulang kota ini dengan meningkatkan kapasitas bank sampah.

Selain itu, wawancara mendalam membantu tim mengidentifikasi kesenjangan dan pola dalam hal perilaku sosial dan kebiasaan. Staf kebersihan di Universitas Lampung (UNILA) menunjukkan bahwa 'meskipun tersedia tempat sampah daur ulang yang terpisah, para siswa dan fakultas tidak menggunakan tempat sampah yang tepat untuk memisahkan sampah mereka’. Seorang operator bank sampah memberitahu kami bahwa 'orang cenderung menghindar membawa sampah mereka ke bank sampah karena stigma sosial yang melekat pada pengumpulan sampah'.

Lokakarya Desain yang berpusat pada manusia

Struktur

Sifat kompleks dari tantangan ini memerlukan pendekatan terpadu yang dapat memperbaiki kondisi dari berbagai sudut. Oleh karena itu, UNCT menyelenggarakan sebuah lokakarya desain yang berpusat pada manusia - pendekatan spesifik untuk pembuatan kebijakan untuk pemecahan masalah yang berfokus secara langsung dan hampir sepenuhnya pada pengguna, sehingga ' berpusat pada manusia ' - dan mengumpulkan tiga puluh peserta yang menangani isu-isu terkait sampah dari pemerintah, sektor swasta, organisasi nirlaba, UNILA, bank sampah, dan sukarelawan masyarakat. Peserta dibagi menjadi lima kelompok, masing-masing diberi lingkup proyek yang spesifik untuk ditangani. Berdasarkan tiga lingkup proyek yang teridentifikasi di atas, kelima kelompok dikategorikan sebagai berikut:

  • Kelompok 1: mendirikan pusat daur ulang dan pengomposan di UNILA;
  • Kelompok 2: mendirikan pusat daur ulang dan pengomposan pada kelompok petani perempuan di pinggiran kota;
  • Kelompok 3: meningkatkan kesadaran masyarakat tentang 3R di SD Al Kautsar;
  • Kelompok 4: meningkatkan kesadaran masyarakat tentang 3R di SMA 13; dan
  • Kelompok 5: memperbaiki model keberlanjutan bank sampah.

Dalam memfasilitasi lokakarya ini, UNCT berkolaborasi dengan Mirum Agency, sebuah lembaga desain pengalaman terkemuka yang mengkhususkan diri pada inovasi dan desain yang berpusat pada manusia. Lokakarya ini dirancang secara strategis untuk mengembangkan purwarupa yang bisa menjadi pendorong perubahan di Bandar Lampung. Purwarupa ini kemudian dipresentasikan kepada pejabat pemerintah termasuk Asisten II, Bapak Pola Pardede, yang juga memberikan pidato penutupan pada tanggal 15 Desember.

Hasil

Selama tiga hari, kelompok-kelompok tersebut melakukan kegiatan intensif untuk mengembangkan purwarupa di dalam lingkup proyek masing-masing. Untuk meningkatkan keberlanjutan bank sampah, salah satu purwarupa bekerja untuk mengembangkan sistem poin bekerja sama dengan pemerintah kota. Sistem poin akan bekerja untuk memberi insentif kepada warga untuk membawa sampah ke bank sampah untuk didaur ulang. Ini adalah alternatif subsidi pemerintah. Selain itu, kelompok ini melakukan pengujian awal tentang pengintegrasian SMASH untuk mengurangi biaya informasi, transaksi, serta sistem poin yang diperkenalkan.

Purwarupa lain yang dikembangkan berfokus pada peningkatan konsumsi yang bertanggung jawab dan pengelolaan sampah di sekolah-sekolah. Tujuannya di sini adalah untuk mendidik dan meningkatkan kesadaran tentang manfaat 3R untuk mengubah perilaku. Purwarupa ini disimulasikan di SD Al Kautsar dan SMA 13 untuk menilai keterlibatan dan minat siswa. Purwarupa tersebut, Hari Berburu Sampah Tahunan, terdiri dari kegiatan sehari-hari di sekolah dan kompetisi daur ulang yang berfokus pada botol plastik dan kemasan makanan. Simulasi tersebut menunjukkan kemauan para siswa untuk secara aktif berpartisipasi untuk mempromosikan praktik pengelolaan sampah yang bertanggung jawab melalui kegiatan yang menyenangkan dan menarik.

Uji lapangan di UNILA menunjukkan kondisi saat ini termasuk kurangnya tempat penyimpanan sampah yang tersedia di kampus, kurangnya informasi tentang 3R sebagai bagian dari pengelolaan sampah padat kampus, dan kurangnya komitmen dari pemangku kepentingan terkait. Temuan ini selanjutnya membentuk desain sistem pengelolaan sampah baru di UNILA untuk mempromosikan 3R dan mengolah 80 persen sampah organik UNILA.

Langkah selanjutnya

Dalam minggu-minggu berikutnya, kami akan bekerja sama dengan mitra termasuk UNILA dan Mirum Agency untuk menguji coba konsep yang dikembangkan. UNCT akan terus menguatkan kemitraannya dengan pemerintah kota melalui pemantauan dan pelaporan tahap ini. Jika hasil uji cobanya memuaskan, kami akan bekerja sama dengan pemerintah untuk meningkatkan skala purwarupa di tingkat kota.

Selain itu, tim telah mengunjungi tiga bank sampah terbaik di seluruh Indonesia dan akan menyusun laporan untuk menyoroti praktik terbaik dan bagaimana pemerintah kota dapat mendukung bank sampah lokal untuk meningkatkan tingkat daur ulang. Tiga contohnya, Makassar, Malang, dan Surabaya telah mengembangkan model bank sampah mereka dari berbagai pendekatan yang berbeda. Di Makassar, terdapat kepemilikan pemerintah yang kuat yang mendukung keberlanjutan program; Di Malang, sebuah perusahaan swasta didirikan melalui keterlibatan pemerintah kota untuk mengelola dan mengoperasikan unit bank sampah di seluruh kota; dan di Surabaya, sebuah organisasi non pemerintah lokal adalah pihak yang bertanggung jawab untuk mengelola pusat bank sampah di kota tersebut. Ketiga kasus ini akan disorot dalam sebuah laporan untuk mendukung pemerintah mengidentifikasi pendekatan terbaik dan paling tepat untuk mendukung bank-bank sampah di kota mereka. 

UNDP Di seluruh dunia

Anda berada di UNDP Indonesia 
Pergi ke UNDP Global