Oleh Christophe Bahuet, Direktur UNDP Indonesia dan Batara Sianturi, CEO Citi Indonesia

Dalam era inovasi disruptif, dengan perubahan radikal yang terjadi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, kreativitas adalah salah satu kunci masa depan. Kreativitas tentu diperlukan untuk mempercepat kemajuan menuju Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Kita bisa melihat potensi  kreativitas yang luar biasa di pelatihan start-up baru-baru ini oleh Youth Co:Lab di Bali dengan dukungan United Nations Development Programme (UNDP) di Indonesia dan Citi Foundation bersama dengan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF). Pelatihan start-up bertujuan untuk mendukung kaum muda dalam kewirausahaan sosial dan teknologi digital. Dari mengurangi sampah plastik dengan memperkenalkan sedotan yang dapat dimakan hingga mengatasi kekurangan gizi dengan daun kelor, kelompok kaum muda dari Indonesia timur yang bergabung dengan Youth Co:Lab tidak pernah kekurangan inovasi.

Para inovator muda ini diharapkan untuk menguasai keterampilan mendasar yang diperlukan untuk menjadi penemu dan wirausahawan yang sukses, mulai dari menciptakan operasi bisnis yang ramping hingga mengidentifikasi peta empati. Dipilih dari lebih dari 200 pelamar, 15 inovator muda terpilih adalah bagian dari inisiatif proyek regional, yang diciptakan oleh UNDP dan Citi Foundation. Tujuan utama Youth Co:Lab adalah untuk memanfaatkan potensi kaum muda di Asia-Pasifik, untuk mempercepat pelaksanaan SDGs.

Youth Co:Lab berfokus menciptakan lingkungan mini yang menarik kaum muda paling berbakat, mempromosikan kolaborasi dan memungkinkan inspirasi dan kreativitas. Dengan memfokuskan pada kaum muda di Indonesia bagian timur, terutama dari daerah pedesaan dan terpencil, Youth Co: Lab juga berkontribusi terhadap filosofi SDGs yaitu ‘Tidak Ada Seorangpun yang Tertinggal’.

Indonesia adalah rumah bagi 63 juta kaum muda, dengan mayoritas dari mereka berasal dari latar belakang berpendidikan dan kelas menengah. Sebuah inisiatif seperti Youth Co:Lab menciptakan lingkungan pendorong dimana para kaum muda pembuat perubahan dapat mengakses ruang dan sumber daya yang mereka butuhkan untuk mendorong perubahan sosial di komunitas mereka dan masyarakat secara keseluruhan. Youth Co:Lab juga menghubungkan para wirausahawan muda dengan ekosistem inovator yang ada —perusahaan rintisan dan wirausaha sosial terkemuka.

Namun, kreativitas hanya dapat berkembang dalam lingkungan usaha yang terbuka yang tidak menghambat ide-ide baru, terutama dari populasi di daerah terpencil, dan dengan kebijakan nasional yang mendorong budaya inovasi. Untuk berkontribusi pada lingkungan pendukung, Youth Co:Lab mengeluarkan rekomendasi kebijakan — dalam kerangka kerja 5 bidang yang berbeda; Budaya, Modal, Kepadatan, Lingkungan Regulasi dan Bakat.

Rekomendasi kebijakan berisi seperangkat seruan aksi yang konkret dan realistis seperti meningkatkan investasi nasional untuk penelitian dan pengembangan (litbang) dan pengembangan kaum muda serta memperkenalkan kewirausahaan ke dalam kurikulum pendidikan. Satu fakta yang perlu diperhatikan adalah bahwa proporsi investasi untuk litbang - tulang punggung inovasi teknologi - tetap tidak berubah selama satu dekade terakhir di Indonesia, sekitar satu persen dari APBN. Tanpa investasi yang lebih tinggi untuk litbang dan lebih tinggi lagi untuk kualitas pendidikan, kaum muda Indonesia tidak akan dapat memainkan peran sepenuhnya untuk mengubah ekonomi Indonesia menjadi ekonomi berbasis pengetahuan dan jasa yang bernilai tambah tinggi yang dapat bersaing secara global. Keterlibatan aktif BEKRAF di Youth Co:Lab telah menunjukkan komitmen kuat Pemerintah Indonesia untuk mendukung kreativitas kaum muda dan meningkatkan lingkungan kebijakan. Dan dengan keahlian yang kuat dalam literasi keuangan, Citi Foundation - diwakili di Indonesia oleh Citi Peka (Peduli dan Berkarya) memberikan keterampilan metodologi bisnis yang sangat dibutuhkan oleh kaum muda untuk melakukan investasi dalam bidang teknologi yang berubah dengan cepat.

Seruan aksi tersebut juga menanggapi masalah yang dihadapi oleh kaum muda Indonesia saat ini. Menurut laporan tahun 2017 oleh International Labour Organization (ILO), tingkat pengangguran di kalangan kaum muda Indonesia adalah 19,4 persen dan proporsi kaum muda yang tidak bekerja, bersekolah atau mengikuti pelatihan adalah 23,2 persen - salah satu yang tertinggi di Asia. Oleh karena itu, ini adalah saatnya untuk meningkatkan skala inisiatif seperti Youth Co:Lab untuk memberi kaum muda masa depan yang lebih baik.

Bagian menjadi inovator hebat adalah kemampuan untuk mengubah empati menjadi solusi. Pemenang penghargaan tertinggi Youth Co: Lab adalah mahasiswa teknik berusia 21 tahun, Yudha Abdul Ghani yang mengembangkan aplikasi bernama KantungDarah yang dapat mempertemukan donor darah dengan mereka yang membutuhkan darah dalam waktu singkat. Mahasiswa Universitas Pattimura di kota Ambon ini mengatakan ia terinspirasi untuk mengembangkan aplikasi ini setelah ia menerima pesan penting dalam kelompok WhatsApp-nya, membutuhkan darah untuk seorang ibu yang kehilangan banyak darah setelah melahirkan bayi pertamanya. Tergerak oleh situasi, ia memutuskan untuk menciptakan solusi yang dapat membantu orang lain dalam situasi serupa. Hasilnya adalah aplikasi sederhana yang dapat menyelamatkan banyak nyawa di kota asalnya, Ambon, Maluku. Kreativitasnya menggambarkan apa yang dikatakan Ketua BEKFRAF, Triawan Munaf, mendukung Youth Co: Lab,"Kaum muda kita adalah sumber utama energi kreatif yang terus memicu inovasi disruptif untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik".

Artikel ini awalnya diterbitkan di The Jakarta Post.

 

 

 

 

UNDP Di seluruh dunia

Anda berada di UNDP Indonesia 
Pergi ke UNDP Global