Bagaimana Zakat Dapat Membantu Mencapai Tujuan Pembangunan

2017 Feb 3


Oleh Maria Karienova

Zakat dalam bahasa Arab berarti "yang memurnikan." Kebanyakan orang Indonesia mengaitkannya dengan amal di bulan suci Ramadhan. Secara pribadi, itu mengingatkan saya pada masa kecil saya ketika om dan tante saya mengunjungi tetangga nenek saya yang kurang mampu dengan membawa setumpuk amplop putih untuk diberikan kepada mereka. Zakat sebenarnya adalah semacam pajak agama, kewajiban seorang Muslim untuk memberikan sebagian kekayaan mereka untuk amal. Islam juga mendorong bentuk-bentuk pemberian yang tidak wajib. Seperti di keluarga saya, sebagian besar praktik amal dilakukan secara informal dan sporadis. Tapi potensi dampaknya tinggi.

Badan Zakat Nasional BAZNAS mengatakan 3,7 triliun Rupiah (US$269 juta) dikumpulkan dari berbagai amal Islam di tahun 2015. Dari 2002-2015, jumlah tersebut sudah naik sebesar 39%. Bahkan selama krisis global pada tahun 2009, peningkatan tetap lebih dari 6%. Hal ini menunjukkan bahwa praktek zakat kebal terhadap krisis keuangan, dan karena itu memiliki potensi yang luar biasa untuk berkontribusi pada pembangunan nasional.

Mengingat potensi itu, Filantropi Indonesia, BAZNAS dan UNDP Indonesia mengadakan diskusi tentang potensi, peran dan tantangan dalam menyalurkan zakat untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

INS-ZakatFrancine

"Banyak dari apa yang ada di SDGs mencerminkan nilai-nilai Islam, karena SDGs bertujuan mengentaskan kemiskinan dan kelaparan, mengurangi kesenjangan dengan mendistribusikan kekayaan dan menjaga lingkungan," kata Wakil Direktur UNDP Indonesia Francine Pickup dalam sambutannya.

Salah satu panelis, Haidar Bagir dari Mizan Group, membahas tentang "siapa yang berhak menerima zakat." Prinsip-prinsip syariah mengatur seperangkat kriteria untuk kelayakan, yang dikenal sebagai asnaf. Hal ini bisa menimbulkan tantangan mengingat SDGs memiliki komitmen untuk memastikan tidak seorangpun tertinggal.

INS-ZakatBagir

Namun, Bagir mengatakan dari 17 tujuan di bawah SDGs, semua kecuali Tujuan No. 12 (konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab) tampaknya relevan untuk zakat.

Ir. Nana Mintarti dari BAZNAS menambahkan bahwa zakat terutama bisa disalurkan untuk Tujuan No. 1 (tanpa kemiskinan), Tujuan No.  2 (tanpa kelaparan), Tujuan No. 3 (kehidupan sehat dan sejahtera), Tujuan No. 4 (pendidikan berkualitas), dan Tujuan No. 6 (air bersih dan sanitasi).

BAZNAS telah melakukan studi tentang dampak program penanggulangan kemiskinan melalui zakat di 13 kabupaten, dan menemukan bahwa mereka telah mengurangi kemiskinan sebesar 6%.

Diskusi lebih lanjut antara ulama Islam, BAZNAS, dan pemangku kepentingan terkait lainnya akan diadakan untuk meninjau teologi dan mengembangkan potensi metodologi untuk mengelola zakat dalam konteks pengadopsian SDGs dalam tujuan pembangunan nasional.
 
Maria Karienova Maria Karienova adalah asisten kampanye junior di UNDP Indonesia. Dia dapat dihubungi di maria.karienova@undp.org

UNDP Di seluruh dunia

Anda berada di UNDP Indonesia 
Pergi ke UNDP Global