Pembiayaan sosial: inovasi untuk pembangunan di Indonesia

2016 Des 9


oleh Francine Pickup and Tomoyuki Uno

Diperkirakan bahwa negara-negara Asia Pasifik menghadapi kekurangan pembiayaan pembangunan sekitar $44 miliar setiap tahun. Jadi agar tantangan pembangunan dapat ditangani secara efektif, diperlukan kontribusi keuangan sektor swasta. Hal ini akan memberi insentif untuk kebaikan sosial.
 
Pembiayaan sosial atau inovatif adalah sebuah konsep yang relatif baru dan mendatangkan modal atau investasi untuk wirausaha yang menghasilkan manfaat sosial dan lingkungan serta keuntungan keuangan.

Pendekatan ini menarik karena mengatasi kesenjangan dengan membantu orang kaya membantu kaum miskin bukan sebagai bentuk amal tetapi sebagai investasi di mana semua orang berpotensi mendapat manfaat. Dengan demikian, pembiayaan sosial menawarkan kesempatan bagi inisiatif akar rumput untuk meningkatkan dampak. Hal ini juga berpotensi menangani ketidaksetaraan gender karena perempuan cenderung untuk berpartisipasi dan memimpin wirausaha sosial.
 
United Nations Development Programme (UNDP) sedang menjajaki hal ini dan mengundang masukan dan mitra untuk menggarap upaya yang relatif baru ini.

Model pembiayaan

Sejumlah model pembiayaan baru muncul baik dari segi ukuran pasar, operasi dan cara melayani masyarakat di negara-negara berkembang, sebagai alternatif pembiayaan.

Model-model ini berkisar dari crowdfunding berbasis ekuitas dan P2P (peer to peer) mata uang alternatif, pengiriman uang cerdas, investasi dampak, pembayaran untuk hasil dan mobile money yang dapat memberikan beberapa solusi untuk mengatasi kesenjangan pembiayaan yang dihadapi oleh banyak pemerintah dalam meyediakan pelayanan dasar. Pada tahun 2025, perkiraan Bank Dunia menunjukkan bahwa crowdfunding bisa mencapai $96 milyar.

Penting bagi kawasan Asia Pasifik adalah pertumbuhan keuangan swasta. Menurut Asian Development Bank, untuk Asia Pasifik secara keseluruhan, sebagian besar dana sekarang di tangan swasta, dalam bentuk pengiriman uang, arus investasi asing langsung dan tabungan pribadi. Dan pada tahun 2030, pasar ekuitas Asia akan mewakili sekitar 42 persen dari kapitalisasi pasar global, dan hingga 72 persen pada tahun 2050.

Penelitian J.P. Morgan dan Global Impact Investing Network menunjukkan bahwa 157 organisasi terkemuka yang berinvestasi pada dampak membuat komitmen $ 15 miliar pada 7551 investasi dampak di tahun 2015, dengan pertumbuhan yang signifikan diperkirakan pada tahun 2016, termasuk di pasar Asia.


Peluang untuk Indonesia

Indonesia dalam berbagai segi adalah bangsa yang tangguh. Ini adalah negara dengan populasi tertinggi keempat di dunia, dengan ekonomi terbesar kesepuluh menurut paritas daya beli, dan  anggota G-20. Meskipun kemajuan ekonomi cukup besar, Indonesia terus menghadapi tantangan pembangunan: kemiskinan persisten, kesenjangan dan degradasi lingkungan.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana negara bisa menyalurkan kekuatan ekonominya untuk memenuhi tantangan-tantangan pembangunan.

Konferensi Pendanaan Pembangunan yang diselenggarakan di Addis Ababa tahun lalu menegaskan bahwa dengan penurunan Bantuan Asing - terutama di negara-negara berpenghasilan menengah, seperti Indonesia - sumber daya domestik sangat penting untuk memecahkan tantangan pembangunan. Meskipun pemerintah dapat dan menyediakan sumber daya, itu saja tidak cukup.

Pergeseran pola pikir sudah berlangsung. Pada tahun 2007, dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 40 tentang Perseroan Terbatas, Indonesia adalah negara pertama yang mewajibkan Corporate Social Responsibility. Lebih banyak perusahaan sekarang mematuhi standar sosial dan lingkungan yang lebih ketat. Bank daerah, seperti Bank Nusa Tenggara Timur, yang baru-baru ini menandatangani kemitraan dengan UNDP, bereksperimen dengan menawarkan pinjaman bebas agunan untuk masyarakat miskin dan memberikan dukungan infrastruktur, termasuk akses terhadap air bersih.

Sebuah ekosistem pembiayaan sosial muncul di Indonesia dan UNDP ingin mendukung pertumbuhannya. Sektor wirausaha sosial Indonesia yang baru lahir tapi sedang tumbuh mencakup lebih dari 450 wirausaha sosial, dan 1.000 lagi yang bercita-cita untuk menjadi wirausaha sosial, menurut laporan Boston Consulting Group ‘The Art of Sustainable Giving’.  Mereka adalah wirausaha sosial rintisan yang ingin membuat perbedaan serta menghasilkan uang.

Sejumlah investor dampak sosial telah muncul di Indonesia yang fungsinya adalah untuk mempersiapkan wirausaha sosial dan kemudian menghubungkan mereka ke investasi keuangan. Namun diperlukan modalitas yang paling tepat dan sesuai untuk konteks Indonesia.

Pengalaman dari program Pengembangan Ekonomi Lokal UNDP di Papua menunjukkan bahwa selama periode tiga tahun, usaha madu, minyak kelapa, pupuk organik dan sirup pala telah dirintis dan pendapatan meningkat, tetapi peningkatan kapasitas lebih lanjut dan akses yang lebih baik ke pasar diperlukan untuk mempertahankan dan memperluas usaha ini agar menjadi peluang investasi.

UNDP di Indonesia mendiversifikasi basis kemitraan dan bekerja dengan sektor swasta dan keuangan, serta pemerintah dan mitra pembangunan tradisional. Awal tahun ini misalnya, UNDP menandatangani kemitraan dengan OJK, menandakan komitmen bersama untuk menemukan jalan untuk inklusi keuangan bagi segmen masyarakat termiskin.

Langkah berikutnya untuk UNDP

Pembiayaan sosial adalah arena baru bagi UNDP dan pada tahap awal ini, kami berdiskusi dengan berbagai aktor untuk membantu mengidentifikasi kesenjangan dan kontribusi yang berguna.

Beberapa peran di mana UNDP berpotensi mendukung pembiayaan sosial dan kewirausahaan sosial meliputi:

  1. Penghubung dan perantara kemitraan antara tingkat nasional dan daerah dan antara aktor yang berbeda termasuk pemerintah, memastikan informasi dibagi antara stakeholder

  2. Penasihat Kebijakan untuk pemerintah tentang peran investasi dampak sosial dan membuat lingkungan peraturan yang kondusif

  3. Penjamin mutu untuk investor, membawa alat-alat dan pengetahuan tentang kerangka pengaman sosial dan lingkungan dan konteks lokal

  4. Pengembangan pipeline inisiatif yang menawarkan manfaat lingkungan dan sosial di daerah miskin agar siap investasi

  5. Memastikan desain inisiatif kewirausahaan berkualitas melalui pengenalan inovasi dan strategi skala


Melalui keterlibatan dalam pembiayaan sosial, kami berharap dapat berkontribusi untuk Indonesia agar menjadi negara dimana kewirausahaan sosial dapat berkembang dan akhirnya membantu mengurangi kemiskinan dan kesenjangan serta melestarikan keanekaragaman hayati dan lingkungan.

Kami menyambut setiap komentar atau tanggapan dari pembaca blog ini dan berharap untuk memberikan informasi terkini tentang kemajuan upaya ini.


Artikel ini awalnya diunggah di http://blogs.lse.ac.uk/businessreview/2016/12/07/social-finance-a-new-frontier-for-development-in-indonesia/

 

UNDP Di seluruh dunia

Anda berada di UNDP Indonesia 
Pergi ke UNDP Global