UNDP Berkolaborasi dalam Studi dengan Standar Global Pertama tentang Kekerasan Berbasis Gender di Papua

gbv-launch


Jakarta
, 06 October 2016 - Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) Indonesia, BPS, dan Rifka Annisa, melakukan survei tentang kesehatan dan pengalaman hidup di empat kabupaten di Provinsi Papua dan Papua Barat. Survei ini menemukan tingkat kekerasan terhadap perempuan hampir sama dengan statistik global - 38 persen perempuan yang berpartisipasi dalam studi telah mengalami kekerasan fisik atau seksual sedikitnya satu kali.

Metodologi yang digunakan berdasarkan model studi multi-negara Organisasi Kesehatan Dunia tentang kekerasan berbasis gender, yang menemukan satu dari tiga perempuan telah mengalami sedikitnya satu bentuk kekerasan fisik atau seksual.

Ini adalah studi pertama BPS yang menggunakan metodologi standar global, yang memperhitungkan sensitivitas etika, serta keamanan dan privasi responden. Survei tersebut juga mewawancarai laki-laki dan perempuan - dengan 38 persen laki-laki mengaku telah melakukan kekerasan terhadap perempuan sedikitnya satu kali dalam hidup mereka.

Survei yang didanai oleh USAID ini melibatkan 960 perempuan dan 971 laki-laki di empat kabupaten di Papua. Hasilnya tidak dapat digeneralisasi untuk Papua secara keseluruhan, tetapi dengan pengalaman dari studi tersebut, BPS berencana melakukan survei nasional tentang kekerasan terhadap perempuan.

"Studi tentang pengalaman hidup perempuan perlu dilakukan," kata Sairi Hasbullah dari BPS. "Tidak seorang perempuanpun harus menderita."

Untuk informasi lebih lanjut tentang pentingnya studi dan temuan, berikut adalah pidato pembukaan dari Deputy Country Director UNDP Indonesia Francine Pickup pada peluncuran laporan pada tanggal 30 September.

Mengakhiri Kekerasan Berbasis Gender merupakan komponen utama dari strategi kesetaraan gender UNDP dan kunci untuk mengentaskan kemiskinan dan mengurangi kesenjangan. Kekerasan berbasis gender merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang fundamental dan merupakan hambatan utama pembangunan. Sebagai sebuah organisasi pembangunan, UNDP harus mengatasi akar penyebab kekerasan dan juga berhati-hati ketika intervensi pembangunan dapat memicu kekerasan karena intervensi tersebut mengganggu status quo dalam hubungan gender.

UNDP melakukan survei ini karena merupakan langkah penting untuk memahami masalah, untuk meningkatkan visibilitas, dan menemukan solusi untuk mengatasi hal itu.

Penelitian ini merupakan kolaborasi antara UNDP, USAID, BPS dan Rifka Annisa Research and Training Center. Kami menghargai kerja organisasi ini serta Emma Fulu, Elli Hayati dan Livia Iskandar yang telah menulis laporan penelitian.

Kami juga menghargai partisipasi hampir dua ribu perempuan dan laki-laki di empat kabupaten di Papua dan Papua Barat: Jayapura, Jayawijaya, Manokwari dan Sorong serta penyedia layanan dan kantor pemberdayaan perempuan.

Penelitian ini luas dan mencakup survei kuantitatif, komponen kualitatif dan penilaian kapasitas kelembagaan penyedia layanan.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapat gambaran tentang kesehatan dan kehidupan perempuan dan laki-laki di provinsi Papua dan Papua Barat. Studi ini menggambarkan hubungan gender di kabupaten-kabupaten tersebut dan berusaha untuk memahami perspektif mereka yang terlibat dalam insiden kekerasan berbasis gender, termasuk yang selamat, pelaku dan pengamat.

Penelitian ini menyajikan bukti tentang skala kejadian Kekerasan Berbasis Gender dan dampaknya dalam kehidupan perempuan, laki-laki dan keluarga. Beberapa kata tentang temuan studi ini. Di tingkat global, Organisasi Kesehatan Dunia menyebutkan bahwa satu dari setiap tiga perempuan telah mengalami kekerasan seksual dan/atau fisik dalam hidup mereka.

Studi ini mengungkapkan angka yang hampir sama: 38% perempuan yang pernah memiliki pasangan laki-laki berusia 14-64 melaporkan telah pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan fisik dan/atau seksual oleh pasangan intim laki-laki dalam hidup mereka, dan 18% melaporkan telah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual dalam waktu 12 bulan sebelum wawancara.

Pelaporan konsisten antara laki-laki dan perempuan. Secara keseluruhan, 38% pria yang pernah memiliki pasangan perempuan berusia 14-64 melaporkan telah melakukan setidaknya satu tindakan kekerasan fisik dan/atau seksual terhadap pasangan perempuan dalam hidup mereka, dan 26% telah melakukan kekerasan dalam 12 bulan terakhir. Hampir sepertiga dari semua laki-laki dan perempuan telah menyaksikan ibu mereka mengalami kekerasan dengan pasangannya selama masa kanak-kanak.

Penilaian kualitatif meninjau pandangan perempuan dan laki-laki tentang keadilan dan kekerasan terhadap perempuan. Seorang perempuan dari Sentani mengatakan: "Di rumah adat kami, laki-laki diperbolehkan untuk berbicara, tetapi perempuan tidak ... Perempuan tidak diizinkan untuk duduk di Pendopo Rumah, laki-laki membuat sebagian besar keputusan. Perempuan menyiapkan makanan di dapur. "

Konsep perempuan dan laki-laki Papua adalah konsep yang diajarkan -  oleh ibu dan ayah kepada anak perempuan dan laki-laki, dikuatkan oleh jaringan sosial dan agama, sekolah dan praktek budaya. Perempuan diajarkan agar submisif sedangkan pria diajarkan untuk menjadi keras. Secara krusial, apa yang diajarkan dapat diubah dengan mempromosikan norma-norma sosial yang lebih setara.

Penilaian Kapasitas Kelembagaan meninjau layanan yang diberikan kepada korban kekerasan berbasis gender. Temuan menunjukkan bahwa hanya 15% dari korban kekerasan berbasis gender menggunakan layanan dukungan formal. Sistem peradilan adat tradisional memainkan peran kunci untuk merespon kekerasan berbasis gender dan penting untuk memastikan agar peradilan adat mendukung perempuan dalam menyelesaikan konflik.

Diharapkan bahwa temuan dan rekomendasi studi ini memberikan bukti yang bermanfaat untuk pembuatan kebijakan dan pengembangan program sebagai bagian dari upaya untuk menghapus kekerasan berbasis gender, dan memberikan kontribusi terhadap SDG 5 tentang Kesetaraan Gender.


Contact Information
Alice Budisatrijo
Communications Specialist
francesca.b@undp.org

 

UNDP Di seluruh dunia

Anda berada di UNDP Indonesia 
Pergi ke UNDP Global