UNDP Deklarasi Anti Kemiskinan 50 Tahun yang Lalu, Sekarang Mitra Sdgs

2016 Mar 3

Pembangunan bisa diibaratkan sebagai lari marathon, bukan lari jarak pendek.

Kita harus membantu masyarakat miskin untuk meningkatkan taraf hidup mereka, kita perlu membangun saluran air bagi petani di daerah kering, kita perlu membantu masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana agar mereka dapat mengelola resiko bencana dan mengurangi dampak bencana, kita juga perlu memberi akses peradilan bagi seluruh warga terutama kelompok-kelompok yang rentan.

Semua ini bukan pekerjaan mudah yang bisa diwujudkan dalam waktu singkat. Pekerjaan untuk hasil yang berkesinambungan bagi semua warga, laki-laki, perempuan dan anak-anak.

Badan PBB untuk Pembangunan (UNDP) selama 50 tahun ini telah melakukan lari marathon melakukan pekerjaan ini.

Beberapa waktu lalu UNDP memperingati hari jadinya yang ke 50 tahun. Badan ini didirikan untuk menghapus kemiskinan. Seiring dengan bertambahnya mandat dan tanggungjawab yang diberikan, kini kami telah menjadi salah satu agen pembangunan terbesar di dunia. Dengan segala kerendahan hati, dengan bangga dapat kami sampaikan bahwa kami telah membantu jutaan orang orang keluar dari jerat kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat di tempat kami bekerja di 177 negara.

Sejak tahun 1966, kami telah melakukan perubahan positif untuk mendukung perkembangan ekonomi dan sosial masyarakat di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia kami mulai bekerja pada tahun 1970, dan berfokus pada penanggulangan kemiskinan. Pada 25 tahun terakhir kami mendukung Indonesia dalam program reformasi ekonomi dan transisi menuju demokrasi. UNDP juga telah mengusahakan pengadopsian dan pelaksanaan kebijakan bagi perlindungan lingkungan. Saat Indonesia diterpa bencana besar seperti tsunami, UNDP bersama para mitra menyalurkan bantuan sambil membangun ketahanan,

Bersama dengan pemerintah, masyarakat, sektor swasta dan para mitra lain, dengan bangga kami sampaikan beberapa perubahan yang telah kami lakukan bagi penduduk Indonesia. Termasuk dukungan penuh kami dalam pembuatan undang-undang pokok, seperti UU Manajemen Konflik Sosial, membantu pembuatan Indeks Demokrasi Indonesia, dan Indeks Pengelolaan Kehutanan yang bisa digunakan untuk menganalisa status pengelolaan hutan.

Kami juga melibatkan ratusan proyek di akar rumput di seluruh Indonesia, yang telah dirasakana dampaknya dalam meningkatkaan taraf hidup ribuan penduduk miskin, khususnya perempuan miskin dengan membekali mereka dengan keahlian untuk mencari nafkah dan mendapatkan akses pada layanan-layanan dasar, termasuk energi. 

Kami telah menunjukkan pada dunia pertumbuhan pembangunan yang lebih baik sejak dibentuknya UNDP pada tahun 1966, tapi kami menyadari hal ini masih jauh dari sempurna. Bisa dilihat dunia kita masih menghadapi masalah dan tantangan dengan adanya hampir satu miliar orang yang berpenghasilan kurang dari Rp 20,000 dan sekitar 750 orang belum bisa menikmati air bersih. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan karena dunia ini masih belum bebas dari kemiskinan dan kelaparan.

Tantangan terberat negara Indonesia adalah kemiskinan dan pemerataan pendapatan. Data BPS menunjukkan sekitar 28 juta orang di Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan, dan di beberapa daerah, kebanyakan di Indonesia timur, angka kemiskinannya lebih tinggi daripada angka rata-rata kemiskinan nasional.Ketidaksetaraan pendapat meningkat menjadi 24% pada tahun 2002-2003 dan angka koefisien Gini (alat pengukur ketidaksetaraan) memperlihatkan hasil yang lebih buruk yaitu 0.329 tahun 2002 menjadi 0.413 tahun 2013.

UNDP dengan sistem PBB adalah badan yang paling tepat untuk menangani tantangan-tantangan utama tersebut. Saat ini kami sedang fokus untuk mengimplementasikan agenda anti kemiskinan seperti yang tertera dalam  Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkesinambungan (SDG), yang telah disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla, pada bulan Septermber 2015. Ambisi SDG antara lain adalah menghapuskan kemiskinan dan kelaparan, meningkatkan kesehatan dan pendidikan, melindungi alam semesta dan menciptakan perdamaian, dan pemerataan keadilan. Tujuan tersebut tidak lain untuk mengurangi kesenjangan. Ini meerupankan tantangan untuk negara-negara berpenghasilan menengah seperti Indonesia.

Di Indonesia, UNDP mengimplementasikan tujuan-tujuan tersebut dalam konteks lokal dan nasional, bermitra dengan Pemerintah, dalam hal ini Bappenas dan para pemangku kepentingan termasuk lembaga-lembaga swadaya pemerintah, sektor swasta, filantropi dan akademisi. Pada tahun 2016 kami merencakan untuk bekerja di sebuah provinsi percobaan dan membentuk kerangka institutional bagi pelaksanaan SDG. Kami juga akan memformulasikan rencana aksi di beberapa provinsi untuk menjembatani kondisi yang ada di masing-masing daerah yang bisa disesuaikan dengan target-target SDG.

Pada tahun-tahun mendatang, untuk mendukung program Nawacita dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, UNDP bertekad membangun kerjasama dengan pemerintahIndonesia demi mengurangi kemiskinan dan kesenjangan, mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim, konsolidasi demokrasi, akses kepada proses keadilan, serta mendukung keikutsertaan Indonesia dalam issue-issue global dan Kerjasama Selatan-Selatan .

Menggarisbawahi tantangan-tantangan SDG, Kepala UNDP Helen Clark tahun lalu mengatakan “Kita adalah generasi terakhir yang bisa menghadapi perubahan iklim yang hebat, dan generasi petama dengan kekayaan dan ilmu pengetahuan untuk menghapus kemiskinan.”  Pada marathon ini, adalah penting bagi kita untuk berkomitmen dan konsistensi untuk mencapai garis finis,. Memang, ini bagai  jalan yang panjang tetapi tujuannya jelas; hanya dengan kebersamaan kita bisa mencapai garis finis dan tak  seorangpun yang ditinggalkan

Oleh: Douglas Broderick, UNDP Indonesia Resident Representative dan Christophe Bahuet UNDP Indonesia Country Director

UNDP Di seluruh dunia

Anda berada di UNDP Indonesia 
Pergi ke UNDP Global