Pengurangan Polybromodiphenyl Ethers (PBDE) dan Polutan Organik Persisten Tidak Disengaja (UPOP)

What We Do

UNDP Indonesia bersama Kementerian Perindustrian dan didukung oleh Global Environment Facility (GEF), menciptakan inisiatif untuk mengurangi penyebaran Polybromodiphenyl ethers (PBDEs) dan Polutan Organik Persisten Tidak Disengaja (UPOPs) yang berasal dari proses produksi. PBDE merupakan salah satu kelompok Brominated Flame Retardants (BFRs) yang paling umum digunakan untuk membuat beragam bahan-bahan tahan api atau sebagai penghambat nyala api (flame retardant). Penggunaan jenis flame retardant khususnya PBDE dalam produk plastik dan produk plastik daur ulang berpotensi membahayakan kesehatan lain (Restrepo and Kannan 2009). PBDE mampu menganggu sistem hormon, yang terlibat dalam perkembangan dan pertumbuhan seksual, penurunan sistem kekebalan tubuh, dan berpotensi menyebabkan kanker, karena sifatnya yang berbahaya. BFR banyak dipakai karena harga yang murah dan efisiensi yang tinggi. PBDE menghambat pembakaran dengan cara melepas atom bromin pada temperatur tinggi, atom bromin mengikat radikal bebas dan menghentikan reaksi kimia yang memulai pembakaran dan memungkinkan penyebaran api (Rahmat et al. 2001).

Program bersama ini diwujudkan melalui program daur ulang dan pengelolaan limbah plasik yang juga dengan tujuan mengurangi emisi PBDEs dan UPOPs melalui perbaikan siklus manajemen produksi dan pengolahan plastik mengandung PBDEs. Program ini diharapkan mampu memperkuat kebijakan nasional agar lebih fokus mengurangi PBDE dan UPOP yang terlepas dari proses produksi barang yang terbuat dari plastik, daur ulang dan pembuangan sampah plastik; pengurangan atau penghapusan impor dan penggunaan PBDE dalam proses produksi; pengurangan UPOPs dan PBDEs yang terlepas dari kegiatan daur ulang plastik yang tidak ramah lingkungan; serta pengurangan emisi UPOPs dan PBDEs dari kegiatan pembuangan plastik yang tidak ramah lingkungan.

Karena sifatnya yang berbahaya tersebut, PBDE telah disetujui untuk masuk dalam daftar Persistent Organic Pollutants (POPs) Konvensi Stockholm, yang telah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang No. 19 Tahun 2009 (Stockholm Convention 2009). .Program ini akan memastikan adanya pertumbuhan dan pembangunan yang berkelanjutan yang akan menciptakan lapangan kerja dan mata pencaharian bagi rakyat miskin dan terkucilkan. Berkurangnya pelepasan PBDE dan UPOP dari industri plastik dan kegiatan daur ulang akan meningkatkan kepercayaan pasar dan mampu merangsang investasi. Selain itu, proyek ini akan memperkuat kapasitas Pemerintah Indonesia untuk:

  1. Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kepatuhan terhadap Konvensi Stockholm tentang Bahan Pencemar Organik yang Persisten (POP);
  2. Mengatasi tantangan-tantangan pembangunan melalui pengembangan kerangka peraturan yang terkait dengan bahan kimia;
  3. Menerapkan teknik terbaik yang ada dan praktik lingkungan terbaik (BAT/BEP) untuk PBDE dan UPOP;
  4. Memobilisasi sumber daya keuangan lebih lanjut untuk POP;
  5. Meningkatkan pembagian pengetahuan tentang POP.

Undang-undang No. 32 tahun 2009 Pasal 1 ayat 20 mendefinisikan limbah sebagai (1) sisa suatu usaha dan/atau kegiatan, (2) limbah elektronik umumnya dipahami sebagai peralatan elektronik yang tidak dipakai, tidak berfungsi atau tidak diinginkan lagi karena telah menjadi barang yang kadaluwarsa dan perlu dibuang, baik dalam bentuk utuh maupun bagian. Sebagian besar limbah elektronik dikategorikan sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) karena mengandung komponen atau bagian yang terbuat dari substansi berbahaya, seperti timbal, merkuri dan kadmium.

Kandungan alat elektronik tersebut mampu merusak organ-organ tubuh jika dibuang, mulai dari penyakit ringan hingga mengakibatkan kematian. Dampak dari unsur-unsur tersebut meliputi;

  1. Kadmium: Mengakibatkan pernapasan parah, dapat merusak paru-paru dan menyebabkan kematian
  2. Timah: Menyerang sistem saraf anak-anak hingga orang dewasa
  3. Timbal: Seseorang yang terkontaminasi timbal dalam jumlah besar akan mengakibatkan anemia, kerusakan ginjal, sakit perut parah, disfungsi otot dan kerusakan otak yang mampu menyebabkan kematian

Timbal adalah neurotoksin (racun penyerang saraf) yang bersifat akumulatif dan merusak pertumbuhan otak. Penyerapan timbal ke dalam darah manusia melalui saluran pencernaan dan saluran napas juga dapat menurunkan angka intellectual quotient (IQ). Penelitian membuktikan jika sampah elektronik yang mengandung logam berat dibakar maka akan menimbulkan polusi udara yang sangat berbahaya, dan jika dibuang akan menghasilkan lindi (cairan yang berasal dari dekomposisi sampah dan infiltrasi air hujan). Cairan bersifat konduktif tersebut terserap tanah dan menyebabkan pencemaran air tanah.

Melihat kondisi ini, maka upaya UNDP dan pemerintah, akademisi, sektor industri dan daur ulang, serta pemangku kepentingan lainnyadalam mengurangi limbah elektronik mengandung PDBEs menjadi relevan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan nomor 12; Responsible Consumption and Production. Sejauh ini, Negara-negara terus mengatasi tantangan yang terkait dengan polusi udara, tanah dan air dan paparan bahan kimia beracun di bawah naungan kesepakatan lingkungan multilateral. Hampir semua Negara Anggota PBB diminta untuk secara teratur melaporkan data dan informasi yang berkaitan dengan limbah berbahaya, polutan organik yang persisten dan zat perusak ozon.

Key Milestones

Timbal adalah neurotoksin (racun penyerang saraf) yang bersifat akumulatif dan merusak pertumbuhan otak. Penyerapan timbal ke dalam darah manusia melalui saluran pencernaan dan saluran napas juga dapat menurunkan angka intellectual quotient (IQ). Penelitian membuktikan jika sampah elektronik yang mengandung logam berat dibakar maka akan menimbulkan polusi udara yang sangat berbahaya, dan jika dibuang akan menghasilkan lindi (cairan yang berasal dari dekomposisi sampah dan infiltrasi air hujan). Cairan bersifat konduktif tersebut terserap tanah dan menyebabkan pencemaran air tanah.

Melihat kondisi ini, maka upaya UNDP dan pemerintah, akademisi, sektor industri dan daur ulang, serta pemangku kepentingan lainnyadalam mengurangi limbah elektronik mengandung PDBEs menjadi relevan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan nomor 12; Responsible Consumption and Production. Sejauh ini, Negara-negara terus mengatasi tantangan yang terkait dengan polusi udara, tanah dan air dan paparan bahan kimia beracun di bawah naungan kesepakatan lingkungan multilateral. Hampir semua Negara Anggota PBB diminta untuk secara teratur melaporkan data dan informasi yang berkaitan dengan limbah berbahaya, polutan organik yang persisten dan zat perusak ozon.

 

Contact



UNDP Indonesia Country Office
Menara Thamrin 8-9th Floor
Jl. MH Thamrin Kav. 3 
Jakarta 10250
Phone: +62-21-29802300
Fax: +62-21-39838941

UNDP Di seluruh dunia

Anda berada di UNDP Indonesia 
Pergi ke UNDP Global